Kamis, 24 Mei 2012

The Nightmare


The Nightmare
(Rigeng D.M)
Lelah membuatku tertidur lelap. Dalam lelap aku bermimpi. Dalam  mimpi aku melihat gadis kecil berwajah pasi. Dia menghampiriku dan tersenyum dingin padaku.
            “Siapa kamu?” tanyaku padanya.
            “Aku masa kecilmu.” Jawabnya.
            “Masa kecilku?” tanyaku heran.
            “Aku masa kecilmu yang suram.” Katanya.
Dia menatapku tajam menghujam hatiku. Akupun menatapnya dengan miris. Tiba-tiba kesedihan merasuki relung hatiku. Aku merasa sendu sekali. Aku coba mengingat masa kecilku yang suram, tapi tak bisa. Yang kuingat masa kecilku sangat membahagiakan.
            “Masa kecilku tak suram.” Kataku padanya.
            “Kau melupakannya..” Matanya menantangku.
            “Dari mana kau tahu?” Tanyaku lagi padanya.
            Dia tersenyum sinis padaku, “Aku adalah masa kecilmu.”
            “Aku sudah lupa.” Kataku lirih.
            Dia mengulurkan kedua tangannya padaku, “Mari kutunjukkan padamu.”
            Tanpa kusadari aku pun mengulurkan kedua tanganku padanya. Dia menarikku bangun perlahan dari pembaringan. Dengan lembut dibimbingnya aku berjalan menuju jendela. Disibaknya gordin jendela kamarku. Aneh aku tak melihat pohon mangga dan pohon rambutan di kebunku. Aku juga tak melihat kolam ikan dan kandang kelinci peliharaan kami.
Aku melihat sebuah taman yang indah. Sebuah taman yang rasanya aku pernah melihatnya, tapi entah kapan. Tiba-tiba aku melihat gadis kecil itu di sana. Aku terkejut, dia tak lagi di sampingku.
            Gadis kecil itu menangis sambil jongkok di pinggir taman. Seorang laki-laki muda tampan berusaha membujuknya. Gadis kecil itu terus menangis menunjuk-nunjuk pada pedagang balon gas. Laki-laki itu menggendongnya. Mereka menuju ke pedagang balon. Lama mereka berdiri di dekat pedagang balon.
Sebuah balon merah diserahkan pada gadis kecil itu. Tapi ia tetap menangis dan menunjuk-nunjuk pedagang balon itu.  Laki-laki itu menunjuk balon yang berwarna lain, tapi    gadis kecil itu tetap menangis. Akhirnya laki-laki itu membeli kesepuluh balon warna-warni yang dijual pedagang itu. Gadis kecil itu pun diam. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
“Anak kecil memang serakah.” Pikirku.
Pedagang balon menghilang dari pandanganku. Gadis kecil yang memegang aneka warna balon itu turun dari gendongan. Mereka berjalan keluar dari taman. Tiba-tiba balon-balon itu lepas dari genggaman. Laki-laki itu berusaha menangkap balon-balon yang terbang, tapi angin kencang menerbangkannya dengan cepat dan semakin meninggi. Gadis kecil itu memandang balon-balon yang terbang itu dengan kecewa, tapi ia tak  menangis.
Tak terasa air mataku menetes menyaksikan kejadian itu. “Kasihan sekali.” Bisikku.
“Apa kau sudah mengingatnya?” Tiba-tiba gadis kecil itu bertanya padaku.
“Belum.” Aku menggelengkan kepalaku.
“Pejamkan matamu sejenak setelah itu bukalah kembali.” Katanya lirih.
Aku memejamkan mata dan ketika kubuka kulihat laki-laki tampan itu menggendong gadis kecil berwajah pasi. Mereka mendekati seorang perempuan muda yang cantik, yang sangat mirip dengan mamaku. Laki-laki itu menyerahkan gadis kecil itu padanya. Wanita itu menerimanya dan langsung mendekap erat-erat.
Seorang anak laki-laki yang  lebih besar asyik bermain mobil-mobilan di teras rumah. Laki-laki tampan itu menghampiri lalu memeluk dan menciumnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh sedikitpun. Perempuan muda itu menatap kepergiannya.  Air mata mengalir dari kedua matanya.
“Kau belum juga mengingatnya?” Gadis kecil itu bertanya lagi padaku.
Aku kembali menggelengkan kepalaku.
“Pejamkan lagi matamu sejenak setelah itu bukalah kembali.” Dia mengulangi perintahnya.
Kembali aku memejamkan mata, lalu kubuka lagi mataku. Aku melihat sebuah perhelatan pernikahan yang sederhana. Perempuan muda yang cantik itu menikah dengan seorang laki-laki yang berkulit gelap dan tak terlalu tampan, dia mirip papaku yang setahun lalu meninggal dunia.
Dalam perhelatan itu kulihat juga gadis kecil berwajah pasi berkejar-kejaran dengan anak laki-laki yang tadi bermain mobil-mobilan. Mereka tak perduli pada acara pernikahan itu. Mereka berlari ke sana ke mari sambil tertawa dan berteriak-teriak. Sesekali mereka mengambil hidangan yang tersedia di meja lalu memakannya.
Tiba saatnya mereka berfoto bersama. Pengantin laki-laki itu menggendong gadis kecil berwajah pasi dan anak laki-laki itu berdiri di antara kedua pengantin. Aku menatap momen itu dan tiba-tiba aku teringat foto yang tersimpan di lemari mamaku. Ternyata itu foto pernikahan mama dan papaku. Ketika pernikahan itu berlangsung mama sudah mempunyai dua orang anak. Apakah itu aku dan kakakku?   
“Apakah kau mulai mengingatnya?” Gadis kecil berwajah pasi mengejutkanku.
“Itu pernikahan mama dan papaku.” Seruku.
Gadis kecil itu tersenyum.
“Apakah anak laki-laki itu kakakku?” Tanyaku padanya.
Gadis kecil itu tersenyum.
“Dan gadis kecil itu adalah aku?” Tanyaku lagi.
Gadis kecil itu tersenyum.
“Jadi papa bukan papa kandungku?”
Gadis kecil itu tersenyum. “Laki-laki itu baik sekali sehingga kau lupa bahwa ia bukan papa kandungmu. Dia kekasih mamamu sebelum menikah dengan papa kandungmu.”
“Lalu di mana papa kandungku? Apakah laki-laki tampan yang membelikanku balon itu adalah papa kandungku?” Aku menatap gadis kecil itu dan berharap ia menjawab pertanyaanku.
“Dia setampan kakakmu kan?” Gadis kecil itu bertanya balik.
“Ya dia setampan kakakku, tapi dia lebih tinggi dan gagah.” Kataku sambil mengingat sosok laki-laki tampan yang membelikanku balon.
“Di mana dia sekarang?” Tanyaku.
Gadis kecil itu menatapku, “Aku tak tahu. Aku hanyalah masa kecilmu.”
“Laki-laki yang membelikanku balon adalah papaku kan?” Tanyaku lagi.
Aku ingin kepastian darinya. Tapi gadis kecil itu menghilang.
Suamiku membangunkanku. “Kenapa mama berteriak-teriak?”
Aku bingung.
“Laki-laki yang membelikanku balon adalah papaku kan?” Tanyaku pada suamiku.
“Laki-laki mana? Mama bermimpi. Papa sudah tidak ada. Mama mungkin merindukannya.” Suamiku yang tak tahu persoalannya berkomentar.
Aku sedih mengingat mimpi itu, “Papa bukan papa kandungku.” Kataku.
“Sudahlah tidur. Semua itu hanya mimpi.” Kata suamiku.
“Papa tidak mau menjadi wali ketika kita menikah kan? Mas Ari yang jadi waliku” lanjutku.
Suamiku diam.
Aku turun dari tempat tidur mengambil handphone-ku di lemari. Sambil bergegas ke ruang tamu kucari nomor telpon kakakku. Suamiku mengikuti dari belakang.
“Ada apa Fit kok malem-malem nelpon?” Suara kakakku dari Jogja mengkhawatirkanku.
“Mas ada yang mau aku tanyain. Aku barusan mimpi....”  Kuceritakan semua mimpiku pada kakakku.
Suami yang duduk di sampingku ikut menyimak ceritaku.
“Lebih baik kamu lupakan saja.” Suara kakakku datar.
“Dia papa kita.” Kataku.
“Tapi dia meninggalkan kita.”
“Kenapa dia meninggalkan kita?”
“Keluarga ningratnya tak mau menerima mama. Dia harus menikah dengan pilihan ibunya untuk mendapat warisan dan mempertahankan keningratannya.”
“Kenapa aku bisa sama sekali tak mengingatnya?” Tanyaku.
“Waktu papa meninggalkan kita, setiap malam kamu selalu menangis. Mama berusaha membuatmu lupa padanya. Dia membawamu ke seorang kiai, sejak itu kamu tidak pernah menangis dan mengingatnya lagi.” Jelas kakakku.
Mataku terasa memanas. “Selama inikah aku melupakannnya?” keluhku dalam hati.
“Mas tahu di mana papa sekarang?” Tanyaku.
“Sudah meninggal.” Jawaban Mas Ari menghujam jantungku.
“Waktu aku menikah apa papa sudah meninggal?” Tanyaku kemudian.
“Waktu kalian akan menikah mama menyuruhku mencarinya, tapi papa sudah meninggal setahun sebelumnya.”
“Dimakamkan di mana?”
“Di Solo. Di makam keluarganya.”
“SMS alamatnya. Aku mau ke sana.”
Aku segara membereskan pakaian yang akan kubawa. Adzan subuh tiba.
“Kenapa mama harus ke sana sekarang?” Suamiku keberatan dengan rencana kepergianku.
“Hampir tiga  puluh lima tahun mama selalu merasakan ada yang hilang dalam diri mama. Semalam mama baru  menemukannya.” Kataku.
“Maaf, Pa. Izinkan mama sekali ini saja. Mama mau kejar pesawat pagi ini, nanti sore langsung pulang. Paling lama besok pagi sudah pulang.” Kataku lagi sambil bergegas mempersiapkan diriku.
“Anak-anak mau sekolah Ma, siapa yang mengurus mereka?” Cegah suamiku.
“Tolong Pa, sekali ini saja papa jagain anak-anak. Sisi dan Dea sudah bisa ngurus diri mereka sendiri. Biar mama ke Bandara naik travel.” Aku berkeras untuk pergi.
“Oke papa telpon Slamet untuk nganter mama ke Bandara.” Suamiku akhirnya menyerah.
Keluar dari bandara Adi Sucipto seorang supir taksi menawariku naik. Kuberikan alamat yang diberikan kakakku. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai di tempat yang kutuju. Rumah papaku tak jauh dari keraton Solo. Sebuah rumah bangunan lama berarsitektur jawa yang sangat anggun. Aku berjalan memasuki pekarangan rumah, kemudian mengetuk pintunya.
Setelah berkali-kali aku mengetuk barulah pintu dibuka. Seorang perempuan seumur mamaku menyambut kedatanganku. Dia berpenampilan sangat rapi dan terawat.
“Assalamu alaikum, apa benar ini rumah Kanjeng Mas Hadidiningrat?” Sapaku padanya.
“Ya betul. Jeng siapa?” Sambutnya dengan logat Jawa yang kental.
“Saya Fitri, putrinya dari Jakarta.” Jawabku.
Perempuan itu terkejut, mungkin sama sekali tak menduga aku akan datang. Dia mempersilakanku masuk dan duduk, lalu meninggalkanku tanpa memperkenalkan diri.
Aku duduk, mataku berkeliling menjelajahi ruang tamu yang tertata rapi. Semua furniture di dalam ruangan ini terbuat dari ukir-ukiran Jawa yang elegan. Ruang tamu ini terasa mewah dan nyaman. Beberapa lukisan keren dan artistik terpasang di dinding. Di lukisan-lukisan itu tertera nama papaku.  
Mataku tertumbuk pada sebuah foto di dinding. Aku berdiri mendekati foto itu. Seorang laki-laki tampan dengan pakaian Jawa lengkap berdiri dengan gagah di dalam foto itu.  Sungguh foto itu sangat pantas berada di ruang mewah ini.  Untuk kemewahan  dan kenyamanan inikah papa meninggalkan kami.
“Itu foto papamu.” Tiba-tiba seorang perempuan mengagetkanku.
Dia bukan perempuan yang tadi membukakan pintu untukku. “Fitri.” kataku memperkenalkan diri.
Dia memeluk dan menciumku, “Kau mirip sekali dengan papamu.”  Katanya.
“Panggil aku bulik, aku adik papamu.” Lanjutnya lagi.  
“Perempuan yang tadi itu siapa Bulik?’ Tanyaku.
“Dia istri mendiang papamu.” Jelasnya.
“Apakah aku punya adik?” tanyaku.
Bulik menggeleng, “Hanya kamu dan kakakmulah anaknya.”
“Kenapa baru sekarang kamu datang? Menjelang kematiannya papamu ingin sekali bertemu dengan kalian.” Bulik bercerita.
Tiba-tiba aku tak bisa menahan tangisku. “Maaf, bahkan baru semalam aku tahu dia adalah papa kandungku.”
Bulik memelukku. Aku ceritakan semua yang terjadi hingga mimpiku semalam yang mendorongku datang ke Solo.
“Aku ingin ke makam papa.” Kataku kemudian
“Beristirahatlah dulu. Setelah makan siang bulik antar kamu ke sana.” Katanya.
Aku dan bulik asyik mengobrol seolah sudah lama kami saling mengenal. Dia banyak bercerita tentang papaku yang memang ingin kuketahui. Dari ceritanya aku tahu kalau bulik adalah lulusan Universitas Leiden, Belanda. Bulik  tidak pernah menikah karena keluarga menolak calon suami yang diajukannya, dan bulik menolak calon suami yang dijodohkan dengannya.  Bulik sebenarnya menyesali keputusan papa kembali ke Solo dan meninggalkan kami.
“Sudahlah bulik, semua sudah terjadi.” Kataku menghiburnya dan diriku sendiri.
“Apakah papa pelukis?” Tanyaku ingin tahu.
“Ya, dia lulusan ASRI Yogya.” Jawab Bulik.
“Bulik ingat ada satu lukisan papamu yang paling disayanginya. Dia bisa berjam-jam memandangi lukisan itu. Sebentar bulik ambil.” Kata bulik sambil beranjak dari tempat duduknya.
Tak lama kemudian bulik telah kembali membawa sebuah lukisan di dalam pigura. Diserahkan lukisan itu padaku. Dadaku berdetak kencang melihat lukisan itu. Panorama dalam lukisan itu seperti yang terlihat dalam mimpiku. Lukisan tentang seorang laki-laki muda yang berusaha menangkap balon warna-warni, dan seorang gadis kecil yang menatap balon-balon itu dengan kecewa.
Mataku terasa memanas, “Papa selalu mengingatku, tapi aku bahkan baru mengingatnya semalam.” Sesalku dalam hati.
“Apa kita harus membeli bunga dulu ke pasar?” tanya bulik sebelum berangkat ke makam.
“Tidak!” kataku, “aku hanya ingin mendoakannya.”
Setelah berdoa di makam papa, kami hendak kembali ke rumah bulik. Di perjalanan, setelah keluar dari pintu pemakaman aku melihat papa datang memanggilku dan mengajakku mengejar balon warna-warni yang membumbung ke langit tinggi. Aku senang sekali. Aku berlari mengejar Papa. Papa menggapai kedua tanganku. Kami pun terbang mengejar balon-balon itu ke langit. Dari sana aku melihat sebuah bis menyambar tubuhku yang akhirnya terpelanting jatuh ke depan pintu pemakaman.
Keesokan harinya aku melihat mama, suami dan anak-anakku, Mas Ari dan keluarganya, Reno, adikku dan keluarganya, bulik, istri dan kerabat-kerabat papa mengantar jasatku ke pembaringan terakhirku di samping papa.

Jatiwaringin,  Akhir Pebruari 2012    

Rabu, 28 Maret 2012

Perhelatan Pernikahan


Aku  dan beberapa teman janjian untuk bertemu di salah satu rumah temanku. Di rumah temanku itu kami asyik membicarakan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan kami. Salah satu di antara kami ada yang akan segera menikahkan anak pertamanya. Pembicaraan kami pun akhirnya mengarah ke sana.
                   Seorang teman yang sudah pernah menikahkan anaknya, memberi beberapa tips kepada kami  bagaimana cara melaksanakan suatu perhelatan pernikahan berdasarkan pengalamannya. Tapi sayang temanku yang satu ini orangnya rada-rada matre, jadi tips yang diberikannya kepada kami juga agak berbau-bau duit dengan tema ‘mencari keuntungan sambil hajatan.’
                   Menurut temanku yang matre ini, setiap perhelatan pernikahan yang diadakan baik di gedung, di mesjid atau pun di rumah sekalipun sama sekali tidak pernah untung. (Ini mau hajatan atau jualan nasi uduk kok nyari untung? Kalau mau untung sih menurutku undang aja Pak Untung Wahyudi, Untung Suropati atau Ari Untung. Pak Untung Wahyudi itu teman SMA-ku yang sekarang jadi bos di telkom, Untung Suropati itu pahlawan zaman Belanda, kalau Ari Untung itu host yang sering muncul di TV. Tapi menurutku kalau ngundang Ari Untung sih malah buntung deh kan kita mesti bayar dia. Lho kok malah ngomongin orang yang namanya Untung sih?  Oke kita balik lagi ngomongin perhelatan pernikahan).
                   Dari semua biaya yang dikeluarkan untuk ngelamar, bayar penghulu, nyewa baju pengantin plus seragam, penyediaan hidangan, nyewa peralatan, dekorasi, nyewa kecimpring/ dangdutan/organ tunggal, nyewa tempat (di gedung , di mesjid, di rumah, atau minjem halaman rumah tetangga sambil nutup jalan jadi orang pada ga bisa lewat), dll,dll, menurut temanku tadi setelah angpau-angpau yang masuk dikumpulkan terus dihitung paling banter cuma balik setengahnya. Kalau biayanya sampai Rp10 juta paling banter uang angpao yang masuk cuma Rp 5 juta, kalau Rp 20 juta yang masuk cuma Rp 10 juta, kalau Rp 50 juta yang masuk cuma Rp 25 juta. Kalau gitu mendingan biaya yang sedikit aja ya jadi ruginya juga sedikit. Nah ini lagi ngomongin rugi. Masak mau dapet menantu malah yang dipikirin rugi terus sih, kasian banget tuh menantu belum-belum sudah dianggap merugikan dikira parasit kali.
                   Lanjut lagi, temanku yang matre itu dengan bangga bilang kalau hajatan mau untung sebaiknya kita mengundang orang-orang kaya (kayak monyet, kayak anak, waduh itu sih makannya malah banyak sambil ngacak-ngacak lagi bisa amburadul deh tuh acara) dan bos-bos (bos copet, bos maling, kalau ini sih malah sendok, gelas, piring pada ilang, jangan-jangan kotak amalnya juga diangkut), eh maksud temenku orang kaya beneran yang banyak duitnya dan tidak pelit, dan bos-bos dari perusahaan besar. Aku bukan orang kaya, bukan juga bos jadi ga masuk daftar undangan dong. Lagian siapa yang mau ngundang elo? Tapi gapapa sih jadi aku ga perlu menghemat belanja untuk ngisi angpau.
                   Dengan lebih bangga lagi temanku yang matre itu bilang bahwa waktu dia menikahkan anaknya dari biaya yang dikeluarkan dia untung Rp 1 juta. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 70 juta dan setelah menghitung angpau-angpau dari kotak amal yang dikumpulkan dia mendapat sekitar Rp 71 juta. Dia juga cerita bagaimana serunya waktu dia dan keluarganya menghitung angpau-angpau tersebut.
                   Malam hari setelah acara perhelatan selesai, temanku dan keluarganya, suami, kakak-kakak, ibu bapak, dan orang-orang yang dituakan berkumpul di ruang tamu untuk menghitung uang yang didapat dari perhelatan. Semua angpau yang terkumpul dari empat kotak amal diletakkan di atas meja yang terdapat di tengah-tengah. Temanku membuka satu persatu angpau, kakaknya mencatat nama donatur dan jumlah uang yang ada di dalamnya. Belum selesai acara penghitungan, tiba-tiba listrik  mati. Semua jadi gelap. Temanku langsung menelungkup di atas angpau-angpau, sambil berteriak: “Jangan ada yang bergerak tetap duduk di tempat!” (Ini kok  kayak adegan polisi mau nangkep penjahat di film-film jadul, temenku  takut banget ada yang ngambil angpaunya, padahal yang duduk di situ keluarganya sendiri. Apa keluarganya keturunan penjahat? Keterlaluan banget temenku itu ya).
                   Sudah deh ga usah ngomongin temenku yang matre itu lagi. Aku mau cerita aja pengalamanku menghadiri acara pernikahan di gedung. Waktu itu aku diajak suamiku menghadiri acara pernikahan temannya. Temannya itu anggota DPR. Aku senang banget. Aku cerita ke temen-temen ngajiku, aku mau kondangan ke tempat anggota dewan. Sambil membanggakan diri sambil pinjem tas yang mecing sama warna bajuku. Ga tau malu ya aku, ga punya apa-apa aja mau sombong.
                   Setelah sampai di tempat kondangan ternyata tempat parkir di halamannya penuh saking banyaknya tamu undangan. Terpaksa deh mobil suamiku parkir di luar agak jauh dari gedung. Wah belum apa-apa sudah olah raga dulu nih. Tapi gapapa sih sekalian ngosongin perut biar ntar di dalam bisa makan banyak, hehehe maruk banget ya.
                   Karena dalam acara itu katanya banyak pejabat negara yang akan datang, sebelum masuk ke gedung kami diperiksa melalui pintu pemeriksaan yang dilengkapi peralatan deteksi bom atau senjata tajam. Menurutku ga sopan banget ya, kita tamu yang diundang tapi kok malah dicurigai. Boro-boro deh punya senjata tajam apalagi bom, pisau dapur di rumahku aja ga ada yang tajem, kalau mau make diasah dulu di ulekan. Parah banget ya aku.
                   Sampai di dalam keadaan sudah kacau, para tamu pada sibuk lari kesana-kemari nyerbu hidangan. Aku tanya suamiku kita mau makan dulu apa salaman dulu. Kata suamiku makan aja dulu  ntar ga kebagian makanan. Habis tamu yang lain sudah pada kalap kayak ga makan berhari-hari.
                   Aku bukan buru-buru ikut nyerbu malah asyik ngelihatin tamu-tamu yang pada kalap. Aku perhatiin ada satu orang yang habis makan sate ga dihabisin terus antri soto ga dihabisin, ganti lagi antri sup zuppa ee ga dihabisin lagi, terus antri lagi makanan yang lain. Waduh nih orang bener-bener deh ga kenal kata mubazir, makanan di buang-buang. Ga mikir apa yang lain ga kebagian, kan aku takut ga kebagian juga lho. Pengen rasanya aku tegur tuh orang tapi apa hakku? Aku bukan petugas catering, juga bukan  saudaranya penganten apalagi satpam yang ditugasin jaga makanan. Ya sudah diemin aja daripada mikiran dia mending aku mikirin perutku yang sudah keroncongan eh emang perutku terbuat dari apa bisa main keroncong?
                   Lihat suasana perhelatan yang semakin memanas, nafsu makanku hilang tapi laper tetep aja sih. Aku pengen nyobain dimsum tapi antriannya kok panjang banget. Ini kondangan atau di tempat pengungsian kok mau makan aja antri segala kayak mau ngambil ransum. Aku lihat gerobak makanan yang lain antriannya juga panjang banget. Ya udah deh pokoknya aku antri di dimsum aja lama-lama juga nyampe ke depan. Perlahan-lahan tapi pasti aku semakin maju dan maju. Akhirnya sampailah aku di antrian nomor dua, tapi sayang dimsumnya sudah habis wah malang deh nasibku. Untung guru ngajiku ngajarin aku sabar. Orang sabar itu disayang Allah katanya.
                   Aku pindah ke antrian sup zuppa. Nasibku berakhir sama dengan ketika antri dimsum. Belum sampai tujuan sup zuppanya sudah habis. Lagi-lagi aku harus bersabar.  Orang sabar itu disayang Allah, aku ingat lagi suara guru ngajiku.
                   Aku melihat ke sekeliling. Semua antrian penuh, kecuali tempat nasi dan lauk pauknya. Akhirnya dengan terpaksa aku berjalan ke meja prasmanan, padahal malam-malam gini males juga makan nasi. Tapi rugi juga kalau ga makan, kan sudah ngasih angpau. Ga mau rugi dong.
                   Waktu lagi antri di meja prasmanan ga sengaja aku menoleh ke kiri. Di sana ada meja-meja bagus dilengkapi dengan bangku-bangku yang bagus juga. Di bangku-bangku itu duduk tamu-tamu yang pakaiannya bagus-bagus juga. Mereka tengah asyik makan dengan tenang sambil ngobrol sekali-kali tertawa.(Jangan-jangan mereka lagi pada ngetawain kita yang lagi berebut makanan, eit ga boleh berburuk sangka lho) Kulirik hidangan yang tersedia di situ menunya enak-enak  dan masih banyak. Di antara kami dan orang-orang yang duduk di bangku-bangku bagus itu dibatasi oleh untaian bunga yang memanjang. Di untaian bunga itu tergantung sebuah tulisan ‘tamu VIP’. Di jalan masuk ke tempat itu berdiri among tamu laki-laki dan perempuan yang menjaga agar kelas kambing tidak masuk ke kelas VIP.
                   Lucu sekali kan di dalam gedung yang sama dan dalam acara yang sama pula terdapat dikotomi manusia berdasarkan tingkat kekayaan dan jabatan. Kelompok yang satu masuk lewat pintu yang tanpa deteksi,  makan dengan tenang sambil duduk di bangku dan meja yang bagus. Makanan yang disediakan juga pilihan dan banyak. Sedang kelompok yang lain masuk lewat pintu yang menggunakan alat deteksi, mau makan harus antri dan berebutan, makannya sambil berdiri atau jongkok. Sebuah perbedaan yang mencolok dan tidak enak dipandang mata. Padahal kedua kelompok ini adalah sama-sama tamu yang diundang tuan rumah. Apa kami sengaja diundang untuk dibedakan?  
                   Aku tersinggung sekali dengan perlakuan ini. Masak aku dimasukin ke kelas kambing. Apa tuh penganten ga tahu untuk dateng ke acara pernikahannya aku sudah berjuang  mati-matian tampil keren. Aku bela-belain ngutang  baju yang bagus, pinjem tas ke temen biar serasi sama baju utangan, sepatuku satu-satunya yang sudah mau coplok  aku lem dulu pake lem oglue yang made in China itu loh. Tiga hari  anak-anakku ga aku kasih uang  jajan  karena uangnya dipakai untuk ngisi angpau. Aduh jadi buka kartu nih malu-maluin aja. Eh sampai di sini aku dimasukin kelas kambing. Dari pada kesel mendingan aku pulang aja kali ya. Eit jangan kesel jadi orang mesti sabar, itu nasehat guru ngajiku. Apa ga ada nasehat selain sabar Ustadzah?
                   Aku mencari-cari suamiku, biasa deh emang suka pisah kalau lagi hunting makanan, kan selera kita beda. Akhirnya aku temukan suamiku lagi mojok menikmati kambing guling.  Sebelum pulang aku menemani suamiku setor muka dulu ke pengantin yang mengundangnya. Aku kaget ternyata pengantennya sudah pada sepuh. Lho ini penganten atau nenek-kakeknya penganten tanyaku pada suamiku. Suamiku menekan pegangannya di tanganku sebagai isyarat agar aku diam.
                   Di jalan aku tanya ke suamiku kok ga malu ya sudah berkali-kali nikah  masih dirame-ramein. Ga kasian apa sama anak-anaknya yang pada nonton acara pernikahannya? Mumpung jadi orang penting dan punya jabatan kan harus dimanfaatkan bisa ngundang pejabat-pejabat sama orang-orang tajir kata suamiku. Benar juga sih rasa malu itu tempatin aja ke urutan berapa yang penting bisa meraih keuntungan. Lagi-lagi ngomongin keuntungan nih. Apa dia ga mikir setiap kali hajatan dia sudah ngerepotin banyak orang.  Dia untung, orang lain buntung.
                   Ada lagi temenku yang lain, mau menikahkan anaknya sampai gagal gara-gara mempertahankan prinsip yang ga jelas. Demi prestise, kedua belah pihak bersikeras untuk duduk di sebelah kanan pengantin. Awalnya aku bingung apa bedanya duduk di kanan sama di kiri penganten. (Maklum deh aku kan jujur dan polos, polos apa bego ya? Jangan bego deh kasian kan ibuku yang ngelahirin aku ntar kecewa.  Ya udah deh oneng aja. Bukannya si oneng sudah jadi anggota dewan? Kok masalahnya sampai ke oneng-oneng sih ga ada hubungannya tau). Ternyata ada anggapan di masyarakat bahwa keluarga yang duduk di kanan itu berarti keluarga yang mengeluarkan biaya untuk pernikahan. (Masyarakat suka beranggapan yang enggak-enggak yang akhirnya bikin susah. Anggapan yang nyusahin ini dijadikan prinsip bagi sebagian orang. Huh capek deh)
                   Karena masing-masing pihak berkeras mau duduk di kanan, akhirnya acara pernikahan anak temenku itu gagal total. Padahal undangan sudah disebar. Temenku nangis-nangis tapi ga berani menentang keputusan suaminya untuk membatalkan pernikahan anaknya. Kata suaminya mau ditaruh di mana mukanya? Di mana hayo? Saking mempertahankan prestise tuh bapak sampai lupa mau di taruh di mana mukanya. Parah kan? Padahal anaknya sudah S2 lulusan universitas terkenal, sudah jadi manager di bank terkenal pula.  Umurnya sudah menjelang kepala 3. Ga kasian apa sama anak gadisnya? Kalau akhirnya malah kumpul kebo gimana? Kumpul sama orang aja kadang-kadang bau apalagi sama kebo amit-amit deh.
                   Tapi anak temenku sama calon suaminya itu termasuk pemuda-pemuda yang baik, pantang kumpul sama kebo. Akhirnya mereka mengurus pernikahan mereka lagi ke  KUA dan akan menikah dengan wali hakim. Tapi untuk menikah dengan wali hakim tetap aja harus pake tanda tangan dan persetujuan si Bapak. Lagi-lagi temenku yang kerepotan bujuk suaminya untuk tanda tangan. Si Bapak tetap ga mau tanda tangan. Tuh bapak keras kepala banget ya? Jedotin aja? Ga ngaruh kok dijedotin juga wong kepalanya terbuat dari batu gunung. Lagian aku ntar dimarahin sama temanku. Biar gitu-gitu temenku masih cintrong kok sama suaminya.
                   Oke deh intinya, kita jangan berlebih-lebihan dalam melakukan apa pun juga. Bukan dilarang sih mengadakan perhelatan pernikahan, apalagi kalau punya uang. Tapi jangan lupa kita harus kembali pada prinsip dan tujuan utama dari perhelatan itu sendiri. Pernikahan dalam Islam bertujuan untuk membentuk keluarga yang sakinah mawwaddah wa rahmah (keluarga yang rukun, saling berkasih dan sayang). Pada Prinsipnya Islam memudahkan pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Jadi jangan mempersulit diri dengan aturan masyarakat yang ga jelas apalagi yang menyimpang dari ajaran agama.
                   Dalam Islam Perhelatan Pernikahan (Walimatul Ursy) itu sangat dianjurkan, dengan tujuan  memberitahu kepada masyarakat sekitar bahwa seorang perempuan telah menikah dengan laki-laki tertentu, sehingga tidak ada lagi fitnah  dalam hubungan mereka dan tidak ada lagi laki-laki lain yang boleh mengganggu atau melamar perempuan tersebut. Masyarakat yang diundang dalam walimatul ursy sebaiknya, keluarga,  sanak saudara dan tetangga terdekat pengantin. Jangan sampai dalam perhelatan pernikahan kita mengundang orang-orang yang  jauh tapi tidak mengundang tetangga terdekat karena tetangga terdekat kita bukan orang kaya atau bos.
                   Hendaklah perhelatan pernikahan itu tidak dijadikan ajang pamer kekayaan atau mencari keuntungan. Niatkan saja sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT karena telah diberi jodoh atau pasangan. Niat yang baik biasanya akan berdampak baik juga dalam kehidupan rumah tangga yang akan dibina oleh kedua mempelai.
                   Dalam perhelatan pernikahan sebaiknya kita menghormati tamu yang kita undang. Karena bagaimanapun juga mereka sudah bersedia hadir dengan meluangkan waktu, tenaga, dan juga materi. Jadi jangan lagi ada dikotomi tamu berdasarkan kekayaan, pangkat atau jabatan. Semua adalah tamu yang kita undang dan wajib kita hormati.
                   Nabi Ibrahin a.s. ketika didatangi tamu, tanpa bertanya siapa tamu itu, ia langsung memerintahkan keluarganya untuk memotong kambing yang paling besar dan mengambil dagingnya yang terbaik lalu memasaknya kemudian menyediakannya untuk tamunya tersebut. Tapi ketika tamu itu tidak juga memakan hidangan tersebut, Nabi Ibrahim bertanya dengan sangat sopan, mengapa anda tidak mencicipinya. Lalu tamu itu memberitahukan jati dirinya. Ternyata ia adalah Malaikat Jibril yang diutus Allah untuk memberitahu kabar tentang kelahiran Nabi Ishaq.
                   Sebaiknya dalam perhelatan pernikahan kita menyediakan bangku bagi undangan untuk duduk ketika makan. Karena Islam mengajarkan adab makan sambil duduk dan dengan tangan kanan. Sebagaimana hadist Rasulullah SAW. Lagian kalau makan sambil berdiri ga ada kenyangnya kan kayak ....aku ga mau nyebutin ah. Apalagi sambil jongkok ntar tau-tau.... aku ga mau nyebutin lagi.
                   Satu lagi, jangan seperti aku ya mau kondangan aja harus ngutang baju biar keren. Nabi ga suka lho sama orang yang suka ngutang. Seperti hadistnya,”Orang yang berhutang itu kalau berkata bohong dan kalau berjanji ingkar.” Nah lho kayak orang munafik kan? Masak mau kondangan aja harus jadi orang yang munafik sih? Astaghfirullah al adzim.
                   Ok friends, makasih sudah membaca tulisanku, semoga ada hikmah yang bisa diambil. Untuk Pak Untung Wahyudi, terima kasih namanya sudah dipinjam, salam untuk istri dan anak-anak tercinta, serta mohon maaf bila ada kesalahan dalam menuliskan nama, pangkat, gelar dan jabatan. Lho ini kok kayak kata-kata mutiara  yang ada di amplop undangan ya?

Rabu, 21 Maret 2012