![]() |
The
Nightmare
(Rigeng
D.M)
Lelah
membuatku tertidur lelap. Dalam lelap aku bermimpi. Dalam mimpi aku melihat gadis kecil berwajah pasi.
Dia menghampiriku dan tersenyum dingin padaku.
“Siapa kamu?” tanyaku padanya.
“Aku masa kecilmu.” Jawabnya.
“Masa kecilku?” tanyaku heran.
“Aku masa kecilmu yang suram.” Katanya.
Dia
menatapku tajam menghujam hatiku. Akupun menatapnya dengan miris. Tiba-tiba
kesedihan merasuki relung hatiku. Aku merasa sendu sekali. Aku coba mengingat
masa kecilku yang suram, tapi tak bisa. Yang kuingat masa kecilku sangat
membahagiakan.
“Masa kecilku tak suram.” Kataku padanya.
“Kau melupakannya..” Matanya menantangku.
“Dari mana kau tahu?” Tanyaku lagi padanya.
Dia tersenyum sinis padaku, “Aku adalah masa kecilmu.”
“Aku sudah lupa.” Kataku lirih.
Dia mengulurkan kedua tangannya padaku, “Mari kutunjukkan
padamu.”
Tanpa kusadari aku pun mengulurkan kedua tanganku
padanya. Dia menarikku bangun perlahan dari pembaringan. Dengan lembut
dibimbingnya aku berjalan menuju jendela. Disibaknya gordin jendela kamarku.
Aneh aku tak melihat pohon mangga dan pohon rambutan di kebunku. Aku juga tak
melihat kolam ikan dan kandang kelinci peliharaan kami.
Aku
melihat sebuah taman yang indah. Sebuah taman yang rasanya aku pernah
melihatnya, tapi entah kapan. Tiba-tiba aku melihat gadis kecil itu di sana.
Aku terkejut, dia tak lagi di sampingku.
Gadis kecil itu menangis sambil jongkok di pinggir taman.
Seorang laki-laki muda tampan berusaha membujuknya. Gadis kecil itu terus
menangis menunjuk-nunjuk pada pedagang balon gas. Laki-laki itu menggendongnya.
Mereka menuju ke pedagang balon. Lama mereka berdiri di dekat pedagang balon.
Sebuah
balon merah diserahkan pada gadis kecil itu. Tapi ia tetap menangis dan
menunjuk-nunjuk pedagang balon itu. Laki-laki
itu menunjuk balon yang berwarna lain, tapi
gadis kecil itu tetap menangis. Akhirnya laki-laki itu membeli kesepuluh
balon warna-warni yang dijual pedagang itu. Gadis kecil itu pun diam. Wajahnya terlihat
sangat bahagia.
“Anak
kecil memang serakah.” Pikirku.
Pedagang
balon menghilang dari pandanganku. Gadis kecil yang memegang aneka warna balon
itu turun dari gendongan. Mereka berjalan keluar dari taman. Tiba-tiba
balon-balon itu lepas dari genggaman. Laki-laki itu berusaha menangkap
balon-balon yang terbang, tapi angin kencang menerbangkannya dengan cepat dan
semakin meninggi. Gadis kecil itu memandang balon-balon yang terbang itu dengan
kecewa, tapi ia tak menangis.
Tak
terasa air mataku menetes menyaksikan kejadian itu. “Kasihan sekali.” Bisikku.
“Apa
kau sudah mengingatnya?” Tiba-tiba gadis kecil itu bertanya padaku.
“Belum.”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Pejamkan
matamu sejenak setelah itu bukalah kembali.” Katanya lirih.
Aku
memejamkan mata dan ketika kubuka kulihat laki-laki tampan itu menggendong
gadis kecil berwajah pasi. Mereka mendekati seorang perempuan muda yang cantik,
yang sangat mirip dengan mamaku. Laki-laki itu menyerahkan gadis kecil itu
padanya. Wanita itu menerimanya dan langsung mendekap erat-erat.
Seorang
anak laki-laki yang lebih besar asyik
bermain mobil-mobilan di teras rumah. Laki-laki tampan itu menghampiri lalu
memeluk dan menciumnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh
sedikitpun. Perempuan muda itu menatap kepergiannya. Air mata mengalir dari kedua matanya.
“Kau
belum juga mengingatnya?” Gadis kecil itu bertanya lagi padaku.
Aku
kembali menggelengkan kepalaku.
“Pejamkan
lagi matamu sejenak setelah itu bukalah kembali.” Dia mengulangi perintahnya.
Kembali
aku memejamkan mata, lalu kubuka lagi mataku. Aku melihat sebuah perhelatan
pernikahan yang sederhana. Perempuan muda yang cantik itu menikah dengan
seorang laki-laki yang berkulit gelap dan tak terlalu tampan, dia mirip papaku
yang setahun lalu meninggal dunia.
Dalam
perhelatan itu kulihat juga gadis kecil berwajah pasi berkejar-kejaran dengan
anak laki-laki yang tadi bermain mobil-mobilan. Mereka tak perduli pada acara
pernikahan itu. Mereka berlari ke sana ke mari sambil tertawa dan
berteriak-teriak. Sesekali mereka mengambil hidangan yang tersedia di meja lalu
memakannya.
Tiba
saatnya mereka berfoto bersama. Pengantin laki-laki itu menggendong gadis kecil
berwajah pasi dan anak laki-laki itu berdiri di antara kedua pengantin. Aku
menatap momen itu dan tiba-tiba aku teringat foto yang tersimpan di lemari
mamaku. Ternyata itu foto pernikahan mama dan papaku. Ketika pernikahan itu
berlangsung mama sudah mempunyai dua orang anak. Apakah itu aku dan kakakku?
“Apakah
kau mulai mengingatnya?” Gadis kecil berwajah pasi mengejutkanku.
“Itu
pernikahan mama dan papaku.” Seruku.
Gadis
kecil itu tersenyum.
“Apakah
anak laki-laki itu kakakku?” Tanyaku padanya.
Gadis
kecil itu tersenyum.
“Dan
gadis kecil itu adalah aku?” Tanyaku lagi.
Gadis
kecil itu tersenyum.
“Jadi
papa bukan papa kandungku?”
Gadis
kecil itu tersenyum. “Laki-laki itu baik sekali sehingga kau lupa bahwa ia
bukan papa kandungmu. Dia kekasih mamamu sebelum menikah dengan papa
kandungmu.”
“Lalu
di mana papa kandungku? Apakah laki-laki tampan yang membelikanku balon itu
adalah papa kandungku?” Aku menatap gadis kecil itu dan berharap ia menjawab
pertanyaanku.
“Dia
setampan kakakmu kan?” Gadis kecil itu bertanya balik.
“Ya
dia setampan kakakku, tapi dia lebih tinggi dan gagah.” Kataku sambil mengingat
sosok laki-laki tampan yang membelikanku balon.
“Di
mana dia sekarang?” Tanyaku.
Gadis
kecil itu menatapku, “Aku tak tahu. Aku hanyalah masa kecilmu.”
“Laki-laki
yang membelikanku balon adalah papaku kan?” Tanyaku lagi.
Aku
ingin kepastian darinya. Tapi gadis kecil itu menghilang.
Suamiku
membangunkanku. “Kenapa mama berteriak-teriak?”
Aku
bingung.
“Laki-laki
yang membelikanku balon adalah papaku kan?” Tanyaku pada suamiku.
“Laki-laki
mana? Mama bermimpi. Papa sudah tidak ada. Mama mungkin merindukannya.” Suamiku
yang tak tahu persoalannya berkomentar.
Aku
sedih mengingat mimpi itu, “Papa bukan papa kandungku.” Kataku.
“Sudahlah
tidur. Semua itu hanya mimpi.” Kata suamiku.
“Papa
tidak mau menjadi wali ketika kita menikah kan? Mas Ari yang jadi waliku”
lanjutku.
Suamiku
diam.
Aku
turun dari tempat tidur mengambil handphone-ku di lemari. Sambil bergegas ke ruang
tamu kucari nomor telpon kakakku. Suamiku mengikuti dari belakang.
“Ada
apa Fit kok malem-malem nelpon?” Suara kakakku dari Jogja mengkhawatirkanku.
“Mas
ada yang mau aku tanyain. Aku barusan mimpi....” Kuceritakan semua mimpiku pada kakakku.
Suami
yang duduk di sampingku ikut menyimak ceritaku.
“Lebih
baik kamu lupakan saja.” Suara kakakku datar.
“Dia
papa kita.” Kataku.
“Tapi
dia meninggalkan kita.”
“Kenapa
dia meninggalkan kita?”
“Keluarga
ningratnya tak mau menerima mama. Dia harus menikah dengan pilihan ibunya untuk
mendapat warisan dan mempertahankan keningratannya.”
“Kenapa
aku bisa sama sekali tak mengingatnya?” Tanyaku.
“Waktu
papa meninggalkan kita, setiap malam kamu selalu menangis. Mama berusaha
membuatmu lupa padanya. Dia membawamu ke seorang kiai, sejak itu kamu tidak
pernah menangis dan mengingatnya lagi.” Jelas kakakku.
Mataku
terasa memanas. “Selama inikah aku melupakannnya?” keluhku dalam hati.
“Mas
tahu di mana papa sekarang?” Tanyaku.
“Sudah
meninggal.” Jawaban Mas Ari menghujam jantungku.
“Waktu
aku menikah apa papa sudah meninggal?” Tanyaku kemudian.
“Waktu
kalian akan menikah mama menyuruhku mencarinya, tapi papa sudah meninggal
setahun sebelumnya.”
“Dimakamkan
di mana?”
“Di
Solo. Di makam keluarganya.”
“SMS
alamatnya. Aku mau ke sana.”
Aku
segara membereskan pakaian yang akan kubawa. Adzan subuh tiba.
“Kenapa
mama harus ke sana sekarang?” Suamiku keberatan dengan rencana kepergianku.
“Hampir
tiga puluh lima tahun mama selalu
merasakan ada yang hilang dalam diri mama. Semalam mama baru menemukannya.” Kataku.
“Maaf,
Pa. Izinkan mama sekali ini saja. Mama mau kejar pesawat pagi ini, nanti sore
langsung pulang. Paling lama besok pagi sudah pulang.” Kataku lagi sambil
bergegas mempersiapkan diriku.
“Anak-anak
mau sekolah Ma, siapa yang mengurus mereka?” Cegah suamiku.
“Tolong
Pa, sekali ini saja papa jagain anak-anak. Sisi dan Dea sudah bisa ngurus diri
mereka sendiri. Biar mama ke Bandara naik travel.” Aku berkeras untuk pergi.
“Oke
papa telpon Slamet untuk nganter mama ke Bandara.” Suamiku akhirnya menyerah.
Keluar
dari bandara Adi Sucipto seorang supir taksi menawariku naik. Kuberikan alamat
yang diberikan kakakku. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai di tempat yang
kutuju. Rumah papaku tak jauh dari keraton Solo. Sebuah rumah bangunan lama
berarsitektur jawa yang sangat anggun. Aku berjalan memasuki pekarangan rumah,
kemudian mengetuk pintunya.
Setelah
berkali-kali aku mengetuk barulah pintu dibuka. Seorang perempuan seumur mamaku
menyambut kedatanganku. Dia berpenampilan sangat rapi dan terawat.
“Assalamu
alaikum, apa benar ini rumah Kanjeng Mas Hadidiningrat?” Sapaku padanya.
“Ya
betul. Jeng siapa?” Sambutnya dengan logat Jawa yang kental.
“Saya
Fitri, putrinya dari Jakarta.” Jawabku.
Perempuan
itu terkejut, mungkin sama sekali tak menduga aku akan datang. Dia
mempersilakanku masuk dan duduk, lalu meninggalkanku tanpa memperkenalkan diri.
Aku
duduk, mataku berkeliling menjelajahi ruang tamu yang tertata rapi. Semua
furniture di dalam ruangan ini terbuat dari ukir-ukiran Jawa yang elegan. Ruang
tamu ini terasa mewah dan nyaman. Beberapa lukisan keren dan artistik terpasang
di dinding. Di lukisan-lukisan itu tertera nama papaku.
Mataku
tertumbuk pada sebuah foto di dinding. Aku berdiri mendekati foto itu. Seorang
laki-laki tampan dengan pakaian Jawa lengkap berdiri dengan gagah di dalam foto
itu. Sungguh foto itu sangat pantas
berada di ruang mewah ini. Untuk
kemewahan dan kenyamanan inikah papa
meninggalkan kami.
“Itu
foto papamu.” Tiba-tiba seorang perempuan mengagetkanku.
Dia
bukan perempuan yang tadi membukakan pintu untukku. “Fitri.” kataku
memperkenalkan diri.
Dia
memeluk dan menciumku, “Kau mirip sekali dengan papamu.” Katanya.
“Panggil
aku bulik, aku adik papamu.” Lanjutnya lagi.
“Perempuan
yang tadi itu siapa Bulik?’ Tanyaku.
“Dia
istri mendiang papamu.” Jelasnya.
“Apakah
aku punya adik?” tanyaku.
Bulik
menggeleng, “Hanya kamu dan kakakmulah anaknya.”
“Kenapa
baru sekarang kamu datang? Menjelang kematiannya papamu ingin sekali bertemu
dengan kalian.” Bulik bercerita.
Tiba-tiba
aku tak bisa menahan tangisku. “Maaf, bahkan baru semalam aku tahu dia adalah
papa kandungku.”
Bulik
memelukku. Aku ceritakan semua yang terjadi hingga mimpiku semalam yang
mendorongku datang ke Solo.
“Aku
ingin ke makam papa.” Kataku kemudian
“Beristirahatlah
dulu. Setelah makan siang bulik antar kamu ke sana.” Katanya.
Aku
dan bulik asyik mengobrol seolah sudah lama kami saling mengenal. Dia banyak
bercerita tentang papaku yang memang ingin kuketahui. Dari ceritanya aku tahu
kalau bulik adalah lulusan Universitas Leiden, Belanda. Bulik tidak pernah menikah karena keluarga menolak
calon suami yang diajukannya, dan bulik menolak calon suami yang dijodohkan
dengannya. Bulik sebenarnya menyesali
keputusan papa kembali ke Solo dan meninggalkan kami.
“Sudahlah
bulik, semua sudah terjadi.” Kataku menghiburnya dan diriku sendiri.
“Apakah
papa pelukis?” Tanyaku ingin tahu.
“Ya,
dia lulusan ASRI Yogya.” Jawab Bulik.
“Bulik
ingat ada satu lukisan papamu yang paling disayanginya. Dia bisa berjam-jam
memandangi lukisan itu. Sebentar bulik ambil.” Kata bulik sambil beranjak dari
tempat duduknya.
Tak
lama kemudian bulik telah kembali membawa sebuah lukisan di dalam pigura.
Diserahkan lukisan itu padaku. Dadaku berdetak kencang melihat lukisan itu.
Panorama dalam lukisan itu seperti yang terlihat dalam mimpiku. Lukisan tentang
seorang laki-laki muda yang berusaha menangkap balon warna-warni, dan seorang gadis
kecil yang menatap balon-balon itu dengan kecewa.
Mataku
terasa memanas, “Papa selalu mengingatku, tapi aku bahkan baru mengingatnya
semalam.” Sesalku dalam hati.
“Apa
kita harus membeli bunga dulu ke pasar?” tanya bulik sebelum berangkat ke
makam.
“Tidak!”
kataku, “aku hanya ingin mendoakannya.”
Setelah
berdoa di makam papa, kami hendak kembali ke rumah bulik. Di perjalanan, setelah
keluar dari pintu pemakaman aku melihat papa datang memanggilku dan mengajakku mengejar
balon warna-warni yang membumbung ke langit tinggi. Aku senang sekali. Aku
berlari mengejar Papa. Papa menggapai kedua tanganku. Kami pun terbang mengejar
balon-balon itu ke langit. Dari sana aku melihat sebuah bis menyambar tubuhku
yang akhirnya terpelanting jatuh ke depan pintu pemakaman.
Keesokan
harinya aku melihat mama, suami dan anak-anakku, Mas Ari dan keluarganya, Reno,
adikku dan keluarganya, bulik, istri dan kerabat-kerabat papa mengantar jasatku
ke pembaringan terakhirku di samping papa.
Jatiwaringin, Akhir Pebruari 2012
