Aku dan beberapa teman janjian untuk bertemu di
salah satu rumah temanku. Di rumah temanku itu kami asyik membicarakan segala
hal yang berkaitan dengan kehidupan kami. Salah satu di antara kami ada yang
akan segera menikahkan anak pertamanya. Pembicaraan kami pun akhirnya mengarah
ke sana.
Seorang teman yang sudah
pernah menikahkan anaknya, memberi beberapa tips kepada kami bagaimana cara melaksanakan suatu perhelatan
pernikahan berdasarkan pengalamannya. Tapi sayang temanku yang satu ini orangnya
rada-rada matre, jadi tips yang diberikannya kepada kami juga agak berbau-bau duit
dengan tema ‘mencari keuntungan sambil hajatan.’
Menurut temanku yang matre
ini, setiap perhelatan pernikahan yang diadakan baik di gedung, di mesjid atau
pun di rumah sekalipun sama sekali tidak pernah untung. (Ini mau hajatan atau
jualan nasi uduk kok nyari untung? Kalau mau untung sih menurutku undang aja
Pak Untung Wahyudi, Untung Suropati atau Ari Untung. Pak Untung Wahyudi itu
teman SMA-ku yang sekarang jadi bos di telkom, Untung Suropati itu pahlawan
zaman Belanda, kalau Ari Untung itu host yang sering muncul di TV. Tapi
menurutku kalau ngundang Ari Untung sih malah buntung deh kan kita mesti bayar
dia. Lho kok malah ngomongin orang yang namanya Untung sih? Oke kita balik lagi ngomongin perhelatan
pernikahan).
Dari semua biaya yang
dikeluarkan untuk ngelamar, bayar penghulu, nyewa baju pengantin plus seragam,
penyediaan hidangan, nyewa peralatan, dekorasi, nyewa kecimpring/
dangdutan/organ tunggal, nyewa tempat (di gedung , di mesjid, di rumah, atau
minjem halaman rumah tetangga sambil nutup jalan jadi orang pada ga bisa lewat),
dll,dll, menurut temanku tadi setelah angpau-angpau yang masuk dikumpulkan terus
dihitung paling banter cuma balik setengahnya. Kalau biayanya sampai Rp10 juta
paling banter uang angpao yang masuk cuma Rp 5 juta, kalau Rp 20 juta yang
masuk cuma Rp 10 juta, kalau Rp 50 juta yang masuk cuma Rp 25 juta. Kalau gitu
mendingan biaya yang sedikit aja ya jadi ruginya juga sedikit. Nah ini lagi
ngomongin rugi. Masak mau dapet menantu malah yang dipikirin rugi terus sih,
kasian banget tuh menantu belum-belum sudah dianggap merugikan dikira parasit
kali.
Lanjut lagi, temanku yang
matre itu dengan bangga bilang kalau hajatan mau untung sebaiknya kita
mengundang orang-orang kaya (kayak monyet, kayak anak, waduh itu sih makannya
malah banyak sambil ngacak-ngacak lagi bisa amburadul deh tuh acara) dan
bos-bos (bos copet, bos maling, kalau ini sih malah sendok, gelas, piring pada
ilang, jangan-jangan kotak amalnya juga diangkut), eh maksud temenku orang kaya
beneran yang banyak duitnya dan tidak pelit, dan bos-bos dari perusahaan besar.
Aku bukan orang kaya, bukan juga bos jadi ga masuk daftar undangan dong. Lagian
siapa yang mau ngundang elo? Tapi
gapapa sih jadi aku ga perlu menghemat belanja untuk ngisi angpau.
Dengan lebih bangga lagi
temanku yang matre itu bilang bahwa waktu dia menikahkan anaknya dari biaya
yang dikeluarkan dia untung Rp 1 juta. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 70
juta dan setelah menghitung angpau-angpau dari kotak amal yang dikumpulkan dia
mendapat sekitar Rp 71 juta. Dia juga cerita bagaimana serunya waktu dia dan
keluarganya menghitung angpau-angpau tersebut.
Malam hari setelah acara
perhelatan selesai, temanku dan keluarganya, suami, kakak-kakak, ibu bapak, dan
orang-orang yang dituakan berkumpul di ruang tamu untuk menghitung uang yang
didapat dari perhelatan. Semua angpau yang terkumpul dari empat kotak amal
diletakkan di atas meja yang terdapat di tengah-tengah. Temanku membuka satu
persatu angpau, kakaknya mencatat nama donatur dan jumlah uang yang ada di
dalamnya. Belum selesai acara penghitungan, tiba-tiba listrik mati. Semua jadi gelap. Temanku langsung
menelungkup di atas angpau-angpau, sambil berteriak: “Jangan ada yang bergerak
tetap duduk di tempat!” (Ini kok kayak adegan
polisi mau nangkep penjahat di film-film jadul, temenku takut banget ada yang ngambil angpaunya,
padahal yang duduk di situ keluarganya sendiri. Apa keluarganya keturunan
penjahat? Keterlaluan banget temenku itu ya).
Sudah deh ga usah ngomongin
temenku yang matre itu lagi. Aku mau cerita aja pengalamanku menghadiri acara
pernikahan di gedung. Waktu itu aku diajak suamiku menghadiri acara pernikahan
temannya. Temannya itu anggota DPR. Aku senang banget. Aku cerita ke
temen-temen ngajiku, aku mau kondangan ke tempat anggota dewan. Sambil
membanggakan diri sambil pinjem tas yang mecing sama warna bajuku. Ga tau malu
ya aku, ga punya apa-apa aja mau sombong.
Setelah
sampai di tempat kondangan ternyata tempat parkir di halamannya penuh saking
banyaknya tamu undangan. Terpaksa deh mobil suamiku parkir di luar agak jauh
dari gedung. Wah belum apa-apa sudah olah raga dulu nih. Tapi gapapa sih
sekalian ngosongin perut biar ntar di dalam bisa makan banyak, hehehe maruk
banget ya.
Karena dalam acara itu
katanya banyak pejabat negara yang akan datang, sebelum masuk ke gedung kami
diperiksa melalui pintu pemeriksaan yang dilengkapi peralatan deteksi bom atau
senjata tajam. Menurutku ga sopan banget ya, kita tamu yang diundang tapi kok
malah dicurigai. Boro-boro deh punya senjata tajam apalagi bom, pisau dapur di
rumahku aja ga ada yang tajem, kalau mau make diasah dulu di ulekan. Parah
banget ya aku.
Sampai di dalam keadaan sudah
kacau, para tamu pada sibuk lari kesana-kemari nyerbu hidangan. Aku tanya
suamiku kita mau makan dulu apa salaman dulu. Kata suamiku makan aja dulu ntar ga kebagian makanan. Habis tamu yang lain
sudah pada kalap kayak ga makan berhari-hari.
Aku bukan buru-buru ikut
nyerbu malah asyik ngelihatin tamu-tamu yang pada kalap. Aku perhatiin ada satu
orang yang habis makan sate ga dihabisin terus antri soto ga dihabisin, ganti
lagi antri sup zuppa ee ga dihabisin lagi, terus antri lagi makanan yang lain.
Waduh nih orang bener-bener deh ga kenal kata mubazir, makanan di buang-buang. Ga
mikir apa yang lain ga kebagian, kan aku takut ga kebagian juga lho. Pengen
rasanya aku tegur tuh orang tapi apa hakku? Aku bukan petugas catering, juga
bukan saudaranya penganten apalagi
satpam yang ditugasin jaga makanan. Ya sudah diemin aja daripada mikiran dia
mending aku mikirin perutku yang sudah keroncongan eh emang perutku terbuat
dari apa bisa main keroncong?
Lihat suasana perhelatan yang
semakin memanas, nafsu makanku hilang tapi laper tetep aja sih. Aku pengen
nyobain dimsum tapi antriannya kok panjang banget. Ini kondangan atau di tempat
pengungsian kok mau makan aja antri segala kayak mau ngambil ransum. Aku lihat
gerobak makanan yang lain antriannya juga panjang banget. Ya udah deh pokoknya
aku antri di dimsum aja lama-lama juga nyampe ke depan. Perlahan-lahan tapi
pasti aku semakin maju dan maju. Akhirnya sampailah aku di antrian nomor dua,
tapi sayang dimsumnya sudah habis wah malang deh nasibku. Untung guru ngajiku
ngajarin aku sabar. Orang sabar itu disayang Allah katanya.
Aku pindah ke antrian sup zuppa.
Nasibku berakhir sama dengan ketika antri dimsum. Belum sampai tujuan sup zuppanya
sudah habis. Lagi-lagi aku harus bersabar. Orang sabar itu disayang Allah, aku ingat lagi
suara guru ngajiku.
Aku melihat ke sekeliling. Semua
antrian penuh, kecuali tempat nasi dan lauk pauknya. Akhirnya dengan terpaksa
aku berjalan ke meja prasmanan, padahal malam-malam gini males juga makan nasi.
Tapi rugi juga kalau ga makan, kan sudah ngasih angpau. Ga mau rugi dong.
Waktu lagi antri di meja
prasmanan ga sengaja aku menoleh ke kiri. Di sana ada meja-meja bagus
dilengkapi dengan bangku-bangku yang bagus juga. Di bangku-bangku itu duduk
tamu-tamu yang pakaiannya bagus-bagus juga. Mereka tengah asyik makan dengan
tenang sambil ngobrol sekali-kali tertawa.(Jangan-jangan mereka lagi pada ngetawain
kita yang lagi berebut makanan, eit ga boleh berburuk sangka lho) Kulirik
hidangan yang tersedia di situ menunya enak-enak dan masih banyak. Di antara kami dan
orang-orang yang duduk di bangku-bangku bagus itu dibatasi oleh untaian bunga
yang memanjang. Di untaian bunga itu tergantung sebuah tulisan ‘tamu VIP’. Di
jalan masuk ke tempat itu berdiri among tamu laki-laki dan perempuan yang
menjaga agar kelas kambing tidak masuk ke kelas VIP.
Lucu sekali kan di dalam
gedung yang sama dan dalam acara yang sama pula terdapat dikotomi manusia
berdasarkan tingkat kekayaan dan jabatan. Kelompok yang satu masuk lewat pintu
yang tanpa deteksi, makan dengan tenang sambil
duduk di bangku dan meja yang bagus. Makanan yang disediakan juga pilihan dan
banyak. Sedang kelompok yang lain masuk lewat pintu yang menggunakan alat
deteksi, mau makan harus antri dan berebutan, makannya sambil berdiri atau
jongkok. Sebuah perbedaan yang mencolok dan tidak enak dipandang mata. Padahal
kedua kelompok ini adalah sama-sama tamu yang diundang tuan rumah. Apa kami
sengaja diundang untuk dibedakan?
Aku tersinggung sekali dengan
perlakuan ini. Masak aku dimasukin ke kelas kambing. Apa tuh penganten ga tahu
untuk dateng ke acara pernikahannya aku sudah berjuang mati-matian tampil keren. Aku bela-belain
ngutang baju yang bagus, pinjem tas ke
temen biar serasi sama baju utangan, sepatuku satu-satunya yang sudah mau coplok
aku lem dulu pake lem oglue yang made in
China itu loh. Tiga hari anak-anakku ga aku
kasih uang jajan karena uangnya dipakai untuk ngisi angpau. Aduh
jadi buka kartu nih malu-maluin aja. Eh sampai di sini aku dimasukin kelas
kambing. Dari pada kesel mendingan aku pulang aja kali ya. Eit jangan kesel
jadi orang mesti sabar, itu nasehat guru ngajiku. Apa ga ada nasehat selain
sabar Ustadzah?
Aku mencari-cari suamiku,
biasa deh emang suka pisah kalau lagi hunting makanan, kan selera kita beda.
Akhirnya aku temukan suamiku lagi mojok menikmati kambing guling. Sebelum pulang aku menemani suamiku setor muka
dulu ke pengantin yang mengundangnya. Aku kaget ternyata pengantennya sudah
pada sepuh. Lho ini penganten atau nenek-kakeknya penganten tanyaku pada
suamiku. Suamiku menekan pegangannya di tanganku sebagai isyarat agar aku diam.
Di jalan aku tanya ke suamiku
kok ga malu ya sudah berkali-kali nikah
masih dirame-ramein. Ga kasian apa sama anak-anaknya yang pada nonton
acara pernikahannya? Mumpung jadi orang penting dan punya jabatan kan harus
dimanfaatkan bisa ngundang pejabat-pejabat sama orang-orang tajir kata suamiku.
Benar juga sih rasa malu itu tempatin aja ke urutan berapa yang penting bisa
meraih keuntungan. Lagi-lagi ngomongin keuntungan nih. Apa dia ga mikir setiap
kali hajatan dia sudah ngerepotin banyak orang.
Dia untung, orang lain buntung.
Ada lagi temenku yang lain,
mau menikahkan anaknya sampai gagal gara-gara mempertahankan prinsip yang ga
jelas. Demi prestise, kedua belah pihak bersikeras untuk duduk di sebelah kanan
pengantin. Awalnya aku bingung apa bedanya duduk di kanan sama di kiri
penganten. (Maklum deh aku kan jujur dan polos, polos apa bego ya? Jangan bego
deh kasian kan ibuku yang ngelahirin aku ntar kecewa. Ya udah deh oneng aja. Bukannya si oneng
sudah jadi anggota dewan? Kok masalahnya sampai ke oneng-oneng sih ga ada
hubungannya tau). Ternyata ada anggapan di masyarakat bahwa keluarga yang duduk
di kanan itu berarti keluarga yang mengeluarkan biaya untuk pernikahan. (Masyarakat
suka beranggapan yang enggak-enggak yang akhirnya bikin susah. Anggapan yang
nyusahin ini dijadikan prinsip bagi sebagian orang. Huh capek deh)
Karena masing-masing pihak
berkeras mau duduk di kanan, akhirnya acara pernikahan anak temenku itu gagal
total. Padahal undangan sudah disebar. Temenku nangis-nangis tapi ga berani
menentang keputusan suaminya untuk membatalkan pernikahan anaknya. Kata
suaminya mau ditaruh di mana mukanya? Di mana hayo? Saking mempertahankan
prestise tuh bapak sampai lupa mau di taruh di mana mukanya. Parah kan? Padahal
anaknya sudah S2 lulusan universitas terkenal, sudah jadi manager di bank
terkenal pula. Umurnya sudah menjelang kepala
3. Ga kasian apa sama anak gadisnya? Kalau akhirnya malah kumpul kebo gimana?
Kumpul sama orang aja kadang-kadang bau apalagi sama kebo amit-amit deh.
Tapi anak temenku sama calon
suaminya itu termasuk pemuda-pemuda yang baik, pantang kumpul sama kebo.
Akhirnya mereka mengurus pernikahan mereka lagi ke KUA dan akan menikah dengan wali hakim. Tapi
untuk menikah dengan wali hakim tetap aja harus pake tanda tangan dan
persetujuan si Bapak. Lagi-lagi temenku yang kerepotan bujuk suaminya untuk
tanda tangan. Si Bapak tetap ga mau tanda tangan. Tuh bapak keras kepala banget
ya? Jedotin aja? Ga ngaruh kok dijedotin juga wong kepalanya terbuat dari batu
gunung. Lagian aku ntar dimarahin sama temanku. Biar gitu-gitu temenku masih
cintrong kok sama suaminya.
Oke deh intinya, kita jangan
berlebih-lebihan dalam melakukan apa pun juga. Bukan dilarang sih mengadakan
perhelatan pernikahan, apalagi kalau punya uang. Tapi jangan lupa kita harus
kembali pada prinsip dan tujuan utama dari perhelatan itu sendiri. Pernikahan
dalam Islam bertujuan untuk membentuk keluarga yang sakinah mawwaddah wa rahmah
(keluarga yang rukun, saling berkasih dan sayang). Pada Prinsipnya Islam
memudahkan pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Jadi jangan mempersulit
diri dengan aturan masyarakat yang ga jelas apalagi yang menyimpang dari ajaran
agama.
Dalam Islam Perhelatan
Pernikahan (Walimatul Ursy) itu sangat dianjurkan, dengan tujuan memberitahu kepada masyarakat sekitar bahwa
seorang perempuan telah menikah dengan laki-laki tertentu, sehingga tidak ada
lagi fitnah dalam hubungan mereka dan
tidak ada lagi laki-laki lain yang boleh mengganggu atau melamar perempuan
tersebut. Masyarakat yang diundang dalam walimatul ursy sebaiknya,
keluarga, sanak saudara dan tetangga
terdekat pengantin. Jangan sampai dalam perhelatan pernikahan kita mengundang
orang-orang yang jauh tapi tidak
mengundang tetangga terdekat karena tetangga terdekat kita bukan orang kaya
atau bos.
Hendaklah perhelatan
pernikahan itu tidak dijadikan ajang pamer kekayaan atau mencari keuntungan.
Niatkan saja sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT karena telah diberi
jodoh atau pasangan. Niat yang baik biasanya akan berdampak baik juga dalam
kehidupan rumah tangga yang akan dibina oleh kedua mempelai.
Dalam perhelatan pernikahan
sebaiknya kita menghormati tamu yang kita undang. Karena bagaimanapun juga
mereka sudah bersedia hadir dengan meluangkan waktu, tenaga, dan juga materi. Jadi
jangan lagi ada dikotomi tamu berdasarkan kekayaan, pangkat atau jabatan. Semua
adalah tamu yang kita undang dan wajib kita hormati.
Nabi Ibrahin a.s. ketika
didatangi tamu, tanpa bertanya siapa tamu itu, ia langsung memerintahkan
keluarganya untuk memotong kambing yang paling besar dan mengambil dagingnya
yang terbaik lalu memasaknya kemudian menyediakannya untuk tamunya tersebut.
Tapi ketika tamu itu tidak juga memakan hidangan tersebut, Nabi Ibrahim
bertanya dengan sangat sopan, mengapa anda tidak mencicipinya. Lalu tamu itu
memberitahukan jati dirinya. Ternyata ia adalah Malaikat Jibril yang diutus
Allah untuk memberitahu kabar tentang kelahiran Nabi Ishaq.
Sebaiknya dalam perhelatan
pernikahan kita menyediakan bangku bagi undangan untuk duduk ketika makan.
Karena Islam mengajarkan adab makan sambil duduk dan dengan tangan kanan.
Sebagaimana hadist Rasulullah SAW. Lagian kalau makan sambil berdiri ga ada
kenyangnya kan kayak ....aku ga mau nyebutin ah. Apalagi sambil jongkok ntar
tau-tau.... aku ga mau nyebutin lagi.
Satu lagi, jangan seperti aku
ya mau kondangan aja harus ngutang baju biar keren. Nabi ga suka lho sama orang
yang suka ngutang. Seperti hadistnya,”Orang yang berhutang itu kalau berkata
bohong dan kalau berjanji ingkar.” Nah lho kayak orang munafik kan? Masak mau
kondangan aja harus jadi orang yang munafik sih? Astaghfirullah al adzim.
Ok friends, makasih sudah
membaca tulisanku, semoga ada hikmah yang bisa diambil. Untuk Pak Untung
Wahyudi, terima kasih namanya sudah dipinjam, salam untuk istri dan anak-anak
tercinta, serta mohon maaf bila ada kesalahan dalam menuliskan nama, pangkat,
gelar dan jabatan. Lho ini kok kayak kata-kata mutiara yang ada di amplop undangan ya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar