Kamis, 24 Mei 2012

The Nightmare


The Nightmare
(Rigeng D.M)
Lelah membuatku tertidur lelap. Dalam lelap aku bermimpi. Dalam  mimpi aku melihat gadis kecil berwajah pasi. Dia menghampiriku dan tersenyum dingin padaku.
            “Siapa kamu?” tanyaku padanya.
            “Aku masa kecilmu.” Jawabnya.
            “Masa kecilku?” tanyaku heran.
            “Aku masa kecilmu yang suram.” Katanya.
Dia menatapku tajam menghujam hatiku. Akupun menatapnya dengan miris. Tiba-tiba kesedihan merasuki relung hatiku. Aku merasa sendu sekali. Aku coba mengingat masa kecilku yang suram, tapi tak bisa. Yang kuingat masa kecilku sangat membahagiakan.
            “Masa kecilku tak suram.” Kataku padanya.
            “Kau melupakannya..” Matanya menantangku.
            “Dari mana kau tahu?” Tanyaku lagi padanya.
            Dia tersenyum sinis padaku, “Aku adalah masa kecilmu.”
            “Aku sudah lupa.” Kataku lirih.
            Dia mengulurkan kedua tangannya padaku, “Mari kutunjukkan padamu.”
            Tanpa kusadari aku pun mengulurkan kedua tanganku padanya. Dia menarikku bangun perlahan dari pembaringan. Dengan lembut dibimbingnya aku berjalan menuju jendela. Disibaknya gordin jendela kamarku. Aneh aku tak melihat pohon mangga dan pohon rambutan di kebunku. Aku juga tak melihat kolam ikan dan kandang kelinci peliharaan kami.
Aku melihat sebuah taman yang indah. Sebuah taman yang rasanya aku pernah melihatnya, tapi entah kapan. Tiba-tiba aku melihat gadis kecil itu di sana. Aku terkejut, dia tak lagi di sampingku.
            Gadis kecil itu menangis sambil jongkok di pinggir taman. Seorang laki-laki muda tampan berusaha membujuknya. Gadis kecil itu terus menangis menunjuk-nunjuk pada pedagang balon gas. Laki-laki itu menggendongnya. Mereka menuju ke pedagang balon. Lama mereka berdiri di dekat pedagang balon.
Sebuah balon merah diserahkan pada gadis kecil itu. Tapi ia tetap menangis dan menunjuk-nunjuk pedagang balon itu.  Laki-laki itu menunjuk balon yang berwarna lain, tapi    gadis kecil itu tetap menangis. Akhirnya laki-laki itu membeli kesepuluh balon warna-warni yang dijual pedagang itu. Gadis kecil itu pun diam. Wajahnya terlihat sangat bahagia.
“Anak kecil memang serakah.” Pikirku.
Pedagang balon menghilang dari pandanganku. Gadis kecil yang memegang aneka warna balon itu turun dari gendongan. Mereka berjalan keluar dari taman. Tiba-tiba balon-balon itu lepas dari genggaman. Laki-laki itu berusaha menangkap balon-balon yang terbang, tapi angin kencang menerbangkannya dengan cepat dan semakin meninggi. Gadis kecil itu memandang balon-balon yang terbang itu dengan kecewa, tapi ia tak  menangis.
Tak terasa air mataku menetes menyaksikan kejadian itu. “Kasihan sekali.” Bisikku.
“Apa kau sudah mengingatnya?” Tiba-tiba gadis kecil itu bertanya padaku.
“Belum.” Aku menggelengkan kepalaku.
“Pejamkan matamu sejenak setelah itu bukalah kembali.” Katanya lirih.
Aku memejamkan mata dan ketika kubuka kulihat laki-laki tampan itu menggendong gadis kecil berwajah pasi. Mereka mendekati seorang perempuan muda yang cantik, yang sangat mirip dengan mamaku. Laki-laki itu menyerahkan gadis kecil itu padanya. Wanita itu menerimanya dan langsung mendekap erat-erat.
Seorang anak laki-laki yang  lebih besar asyik bermain mobil-mobilan di teras rumah. Laki-laki tampan itu menghampiri lalu memeluk dan menciumnya. Setelah itu ia pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh sedikitpun. Perempuan muda itu menatap kepergiannya.  Air mata mengalir dari kedua matanya.
“Kau belum juga mengingatnya?” Gadis kecil itu bertanya lagi padaku.
Aku kembali menggelengkan kepalaku.
“Pejamkan lagi matamu sejenak setelah itu bukalah kembali.” Dia mengulangi perintahnya.
Kembali aku memejamkan mata, lalu kubuka lagi mataku. Aku melihat sebuah perhelatan pernikahan yang sederhana. Perempuan muda yang cantik itu menikah dengan seorang laki-laki yang berkulit gelap dan tak terlalu tampan, dia mirip papaku yang setahun lalu meninggal dunia.
Dalam perhelatan itu kulihat juga gadis kecil berwajah pasi berkejar-kejaran dengan anak laki-laki yang tadi bermain mobil-mobilan. Mereka tak perduli pada acara pernikahan itu. Mereka berlari ke sana ke mari sambil tertawa dan berteriak-teriak. Sesekali mereka mengambil hidangan yang tersedia di meja lalu memakannya.
Tiba saatnya mereka berfoto bersama. Pengantin laki-laki itu menggendong gadis kecil berwajah pasi dan anak laki-laki itu berdiri di antara kedua pengantin. Aku menatap momen itu dan tiba-tiba aku teringat foto yang tersimpan di lemari mamaku. Ternyata itu foto pernikahan mama dan papaku. Ketika pernikahan itu berlangsung mama sudah mempunyai dua orang anak. Apakah itu aku dan kakakku?   
“Apakah kau mulai mengingatnya?” Gadis kecil berwajah pasi mengejutkanku.
“Itu pernikahan mama dan papaku.” Seruku.
Gadis kecil itu tersenyum.
“Apakah anak laki-laki itu kakakku?” Tanyaku padanya.
Gadis kecil itu tersenyum.
“Dan gadis kecil itu adalah aku?” Tanyaku lagi.
Gadis kecil itu tersenyum.
“Jadi papa bukan papa kandungku?”
Gadis kecil itu tersenyum. “Laki-laki itu baik sekali sehingga kau lupa bahwa ia bukan papa kandungmu. Dia kekasih mamamu sebelum menikah dengan papa kandungmu.”
“Lalu di mana papa kandungku? Apakah laki-laki tampan yang membelikanku balon itu adalah papa kandungku?” Aku menatap gadis kecil itu dan berharap ia menjawab pertanyaanku.
“Dia setampan kakakmu kan?” Gadis kecil itu bertanya balik.
“Ya dia setampan kakakku, tapi dia lebih tinggi dan gagah.” Kataku sambil mengingat sosok laki-laki tampan yang membelikanku balon.
“Di mana dia sekarang?” Tanyaku.
Gadis kecil itu menatapku, “Aku tak tahu. Aku hanyalah masa kecilmu.”
“Laki-laki yang membelikanku balon adalah papaku kan?” Tanyaku lagi.
Aku ingin kepastian darinya. Tapi gadis kecil itu menghilang.
Suamiku membangunkanku. “Kenapa mama berteriak-teriak?”
Aku bingung.
“Laki-laki yang membelikanku balon adalah papaku kan?” Tanyaku pada suamiku.
“Laki-laki mana? Mama bermimpi. Papa sudah tidak ada. Mama mungkin merindukannya.” Suamiku yang tak tahu persoalannya berkomentar.
Aku sedih mengingat mimpi itu, “Papa bukan papa kandungku.” Kataku.
“Sudahlah tidur. Semua itu hanya mimpi.” Kata suamiku.
“Papa tidak mau menjadi wali ketika kita menikah kan? Mas Ari yang jadi waliku” lanjutku.
Suamiku diam.
Aku turun dari tempat tidur mengambil handphone-ku di lemari. Sambil bergegas ke ruang tamu kucari nomor telpon kakakku. Suamiku mengikuti dari belakang.
“Ada apa Fit kok malem-malem nelpon?” Suara kakakku dari Jogja mengkhawatirkanku.
“Mas ada yang mau aku tanyain. Aku barusan mimpi....”  Kuceritakan semua mimpiku pada kakakku.
Suami yang duduk di sampingku ikut menyimak ceritaku.
“Lebih baik kamu lupakan saja.” Suara kakakku datar.
“Dia papa kita.” Kataku.
“Tapi dia meninggalkan kita.”
“Kenapa dia meninggalkan kita?”
“Keluarga ningratnya tak mau menerima mama. Dia harus menikah dengan pilihan ibunya untuk mendapat warisan dan mempertahankan keningratannya.”
“Kenapa aku bisa sama sekali tak mengingatnya?” Tanyaku.
“Waktu papa meninggalkan kita, setiap malam kamu selalu menangis. Mama berusaha membuatmu lupa padanya. Dia membawamu ke seorang kiai, sejak itu kamu tidak pernah menangis dan mengingatnya lagi.” Jelas kakakku.
Mataku terasa memanas. “Selama inikah aku melupakannnya?” keluhku dalam hati.
“Mas tahu di mana papa sekarang?” Tanyaku.
“Sudah meninggal.” Jawaban Mas Ari menghujam jantungku.
“Waktu aku menikah apa papa sudah meninggal?” Tanyaku kemudian.
“Waktu kalian akan menikah mama menyuruhku mencarinya, tapi papa sudah meninggal setahun sebelumnya.”
“Dimakamkan di mana?”
“Di Solo. Di makam keluarganya.”
“SMS alamatnya. Aku mau ke sana.”
Aku segara membereskan pakaian yang akan kubawa. Adzan subuh tiba.
“Kenapa mama harus ke sana sekarang?” Suamiku keberatan dengan rencana kepergianku.
“Hampir tiga  puluh lima tahun mama selalu merasakan ada yang hilang dalam diri mama. Semalam mama baru  menemukannya.” Kataku.
“Maaf, Pa. Izinkan mama sekali ini saja. Mama mau kejar pesawat pagi ini, nanti sore langsung pulang. Paling lama besok pagi sudah pulang.” Kataku lagi sambil bergegas mempersiapkan diriku.
“Anak-anak mau sekolah Ma, siapa yang mengurus mereka?” Cegah suamiku.
“Tolong Pa, sekali ini saja papa jagain anak-anak. Sisi dan Dea sudah bisa ngurus diri mereka sendiri. Biar mama ke Bandara naik travel.” Aku berkeras untuk pergi.
“Oke papa telpon Slamet untuk nganter mama ke Bandara.” Suamiku akhirnya menyerah.
Keluar dari bandara Adi Sucipto seorang supir taksi menawariku naik. Kuberikan alamat yang diberikan kakakku. Sekitar 15 menit kemudian kami sampai di tempat yang kutuju. Rumah papaku tak jauh dari keraton Solo. Sebuah rumah bangunan lama berarsitektur jawa yang sangat anggun. Aku berjalan memasuki pekarangan rumah, kemudian mengetuk pintunya.
Setelah berkali-kali aku mengetuk barulah pintu dibuka. Seorang perempuan seumur mamaku menyambut kedatanganku. Dia berpenampilan sangat rapi dan terawat.
“Assalamu alaikum, apa benar ini rumah Kanjeng Mas Hadidiningrat?” Sapaku padanya.
“Ya betul. Jeng siapa?” Sambutnya dengan logat Jawa yang kental.
“Saya Fitri, putrinya dari Jakarta.” Jawabku.
Perempuan itu terkejut, mungkin sama sekali tak menduga aku akan datang. Dia mempersilakanku masuk dan duduk, lalu meninggalkanku tanpa memperkenalkan diri.
Aku duduk, mataku berkeliling menjelajahi ruang tamu yang tertata rapi. Semua furniture di dalam ruangan ini terbuat dari ukir-ukiran Jawa yang elegan. Ruang tamu ini terasa mewah dan nyaman. Beberapa lukisan keren dan artistik terpasang di dinding. Di lukisan-lukisan itu tertera nama papaku.  
Mataku tertumbuk pada sebuah foto di dinding. Aku berdiri mendekati foto itu. Seorang laki-laki tampan dengan pakaian Jawa lengkap berdiri dengan gagah di dalam foto itu.  Sungguh foto itu sangat pantas berada di ruang mewah ini.  Untuk kemewahan  dan kenyamanan inikah papa meninggalkan kami.
“Itu foto papamu.” Tiba-tiba seorang perempuan mengagetkanku.
Dia bukan perempuan yang tadi membukakan pintu untukku. “Fitri.” kataku memperkenalkan diri.
Dia memeluk dan menciumku, “Kau mirip sekali dengan papamu.”  Katanya.
“Panggil aku bulik, aku adik papamu.” Lanjutnya lagi.  
“Perempuan yang tadi itu siapa Bulik?’ Tanyaku.
“Dia istri mendiang papamu.” Jelasnya.
“Apakah aku punya adik?” tanyaku.
Bulik menggeleng, “Hanya kamu dan kakakmulah anaknya.”
“Kenapa baru sekarang kamu datang? Menjelang kematiannya papamu ingin sekali bertemu dengan kalian.” Bulik bercerita.
Tiba-tiba aku tak bisa menahan tangisku. “Maaf, bahkan baru semalam aku tahu dia adalah papa kandungku.”
Bulik memelukku. Aku ceritakan semua yang terjadi hingga mimpiku semalam yang mendorongku datang ke Solo.
“Aku ingin ke makam papa.” Kataku kemudian
“Beristirahatlah dulu. Setelah makan siang bulik antar kamu ke sana.” Katanya.
Aku dan bulik asyik mengobrol seolah sudah lama kami saling mengenal. Dia banyak bercerita tentang papaku yang memang ingin kuketahui. Dari ceritanya aku tahu kalau bulik adalah lulusan Universitas Leiden, Belanda. Bulik  tidak pernah menikah karena keluarga menolak calon suami yang diajukannya, dan bulik menolak calon suami yang dijodohkan dengannya.  Bulik sebenarnya menyesali keputusan papa kembali ke Solo dan meninggalkan kami.
“Sudahlah bulik, semua sudah terjadi.” Kataku menghiburnya dan diriku sendiri.
“Apakah papa pelukis?” Tanyaku ingin tahu.
“Ya, dia lulusan ASRI Yogya.” Jawab Bulik.
“Bulik ingat ada satu lukisan papamu yang paling disayanginya. Dia bisa berjam-jam memandangi lukisan itu. Sebentar bulik ambil.” Kata bulik sambil beranjak dari tempat duduknya.
Tak lama kemudian bulik telah kembali membawa sebuah lukisan di dalam pigura. Diserahkan lukisan itu padaku. Dadaku berdetak kencang melihat lukisan itu. Panorama dalam lukisan itu seperti yang terlihat dalam mimpiku. Lukisan tentang seorang laki-laki muda yang berusaha menangkap balon warna-warni, dan seorang gadis kecil yang menatap balon-balon itu dengan kecewa.
Mataku terasa memanas, “Papa selalu mengingatku, tapi aku bahkan baru mengingatnya semalam.” Sesalku dalam hati.
“Apa kita harus membeli bunga dulu ke pasar?” tanya bulik sebelum berangkat ke makam.
“Tidak!” kataku, “aku hanya ingin mendoakannya.”
Setelah berdoa di makam papa, kami hendak kembali ke rumah bulik. Di perjalanan, setelah keluar dari pintu pemakaman aku melihat papa datang memanggilku dan mengajakku mengejar balon warna-warni yang membumbung ke langit tinggi. Aku senang sekali. Aku berlari mengejar Papa. Papa menggapai kedua tanganku. Kami pun terbang mengejar balon-balon itu ke langit. Dari sana aku melihat sebuah bis menyambar tubuhku yang akhirnya terpelanting jatuh ke depan pintu pemakaman.
Keesokan harinya aku melihat mama, suami dan anak-anakku, Mas Ari dan keluarganya, Reno, adikku dan keluarganya, bulik, istri dan kerabat-kerabat papa mengantar jasatku ke pembaringan terakhirku di samping papa.

Jatiwaringin,  Akhir Pebruari 2012